• HUTAN RI

    Ilegal Hutan Indonesia

    Warning!
  • bom Terumbu Karang RI

    BOM Terumbu Karang Indonesia

    Warning!
  • Tambang ilegal RI

    Tambang Ilegal Indonesia

    Warning!
  • Senjata API ilegal RI

    Senjata API ilegal di Indonesia

    Warning!

Sabtu, 05 Mei 2012

Rusaknya Moral Generasi Muda Bangsa

Oleh: Parwanto, Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Jurusan Teknik Pertanian, Universitas Andalas.
Kondisi Indonesia saat ini, dari segi moralnya sungguh memprihatinkan. Khususnya generasi muda, yang seharusnya menjadi tolak ukur kekuatan sebuah negara, akan tetapi kondisi yang terjadi adalah sebaliknya. Kejahatan seolah-olah menjadi kewajiban anak-anak muda untuk dilakukan. Ketidakadilan merajalela dimana-mana, seakan-akan menjadi sendi kehidupan setiap orang. Rezim otoriter telah ditumbangkan, akan tetapi sisa-sisa sifatnya masih bisa kita rasakan. Rezim itu ditumbangkan oleh sebagaian besar para pemuda di masa itu yang sadar akan kebebasan dalam berkarya. Akan tetapi kebebasan itu sekarang menjadi kebebasan yang tidak terarah sehingga menjadi kebebasan yang tidak berfaedah. Kemana anak-anak muda pejuang reformasi yang dahulu sempat bersemangat mengumandangkan panji-panji kebebasan berkarya? Akankah mereka hanya tinggal kenangan yang akan disebut-sebut sebagai pahlawan reformasi akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa ketika reformasi disalahgunakan. Apakah kita butuh pahlawan baru untuk memunculkan semangat reformasi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan bangsa ini?

Hampir di setiap lini kehidupan orang disibukkan dengan berbagai kepentingan, akan tetapi sedikit sekali yang disibukkan denga kepentingan orang lain. Ada yang sibuk dengan kepentingan orang lain akan tetapi mengharapkan pendapatan yang besar dari hasil kerjanya. Tidak bisa kita menyalahkan seratus persen tentang kondisi seperti itu, karena barangkali mereka punya tanggungan yang mesti dicarikan nafkahnya. Berbeda halnya dengan pemuda yang notabenenya belum banyak punya tanggungan dan kepentingannya pun bisa dibilang tidak ada kecuali untuk menghidupi dirinya sembari mempersiapkan masa depannya. Sebuah peluang yang menggembirakan jika pemuda yang sering disebut sebagai “generasi produktif” itu memiki visi yang jelas untuk kepentingan dan kebaikan bersama bangsa dan negara ini. Mereka belum sesibuk mereka yang memiliki banyak tanggungan. Beban yang harus mereka tanggung juga masih bisa dibilang ringan. Bukankah merupakan suatu kekuatan jika kita mampu menghimpun kekuatan dari pemuda-pemuda generasi produktif itu untuk mengembangkan bangsa ini. Bahkan bapak Presiden pertama bangsa ini pernah menyampaikan, “bawa kemari empat orang pemuda, maka akan aku goncangkan dunia”. Sebuah kata-kata agung yang keluar dari seorang pemimpin besar. Muncul pertanyaan baru, generasi muda seperti apa yang dimaksudkan oleh Bapak Presiden itu?
Bukan sesuatu yang lucu jika kita mendengar pemuda yang hobinya berkelahi, minum-minuman keras yang katanya kalau tidak minum bukanlah seorang laki-laki, pemuda yang hobinya hura-hura tanpa memikirkan masa depan dirinya. Juga bukan sesuatu yang bisa dibanggakan pemuda yang tidak punya konsep diri yang jelas. Di masa yang seharusnya bisa melakukan banyak hal, akan tetapi yang terjadi adalah terbuai dengan kebebasan yang merupakan ciri dari masa hidupnya. Jangankan berpikir untuk kebaikan bangsa, negara, dan agamanya, berpikir untuk dirinya sendirinyapun tidak bisa ia lakukan. Waktu-waktu yang banyak ia miliki mereka habiskan dengan sesuatu yang tidak berguna. Yang mereka bangga-banggakan hanya jika mereka mampu menunjukkan kepada banyak orang bahwa mereka seorang anak  muda yang syarat dengan segala keduniaannya. Sementara mereka melupakan fungsi mereka sebagai sumber kekuatan bangsa dan negara ini.  Tidaklah sama antara mereka yang berdiam diri dengan segala aktivitas kesendiriannya dengan mereka yang punya langkah-langkah konkrit untuk menjadikan diri mereka menjadi generasi produktif yang akan dikenang oleh banyak orang karena karya-karya besarnya.
Berbagai masalah moral yang melanda bangsa ini sungguh membahayakan nasib generasi penerus bangsa yaitu pemuda. Penyebab tumbuh dan berkembangnya kerusakan moral yang terjadi di sekitar kita sekarang, menurut penulis ada beberapa faktor. Yang pertama, karena pola pendidikan orang tua di rumah kepada anaknya yang tidak memenuhi standar pembentukan generasi yang produktif. Bukan bermaksud menyalahkan para orang tua yang tidak mampu mendidik anaknya menjadi anak yang memiliki etika yang bagus. Akan tetapi itulah kenyataan yang terjadi disaat sekarang ini. Orang tua seakan-akan berlepas tangan terhadap perbuatan yang dilakukan oleh anaknya di luar. Atau bahkan orang tua yang mengarahkan anaknya untuk berbuat amoral. Jika dipersentasekan, banyaknya orang tua yang mendidik anaknya agar memiliki karakter lebih kecil dibanding orang tua yang cenderung memberi kebebasan kepada anaknya untuk berbuat sesuka anaknya karena alasan tertentu. Sungguh menyedihkan jika ada orang tua yang bangga dengan tindakan amoral yang dilakukan oleh anaknya. Yang kedua, karena lingkungan tempat tumbuh mereka yang tidak kondusif. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan “ jika engkau berteman dengan tukang besi, jika tidak luka karena besi itu, minimal terkena kotorannya. Berbeda jika engkau berteman dengan penjual parfum, minimal engkau mendapatkan bau harum darinya”. Hal ini menggambarkan kepada kita betapa besar pengaruh lingkungan terhadap diri seseorang. Jika generasi muda kita bergaul dengan orang yang suka mencuri, kalaupun mereka tidak ikut mencuri, mereka akan ikut memanfaatkan barang hasil curian itu. Yang ketiga, faktor agama yang hanya tinggal identitas yang terpajang di Kartu Tanda Penduduk saja tanpa pengamalan. Islam khususnya, agama ini memiliki aturan yang jelas dengan konsekuensi setiap kesalahan para penganutnya akan menndapatkan sesuatu yang setimpal pula. Bukan agamanya yang terlalu mempersulit penganutnya, akan tetapi penganutnya yang belum bisa merasakan indanya masuk ke dalam agamanya secara menyeluruh. Di dalamnya diajarkan bagaimana mengefektifkan semua waktu untuk kebaikan-kebaikan. Jadi mustahil bagi mereka yang memasukinya secara menyeluruh akan menghabiskan waktu yang dimiliki dengan sesuatu yang sia-sia.
Akibatnya, banyak generasi muda kita salah orientasi. Mereka terbuai dengan kebebasan sementara yang sebenarnya jika tidak dimanfaatkan dengan  baik akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kehinaan. Orientasi yang terbangun dari lingkungan yang tidak baik akan melahirkan orientasi yang tidak baik pula. Jikalau sekarang diadakan survei tentang orientasi yang ada benak generasi muda kita hari ini, barangkali sedikit sekali yang orientasinya jauh ke depan. Angan-angan kosong mereka membuat mereka lupa diri. Kegelisahan yang menyelimuti relung-relung hati mereka menyita pikiran dan energy mereka tanpa ada solusi tepat yang lahir dari dalam diri mereka sendiri. Berbagai akibat yang ditimbulkan dari faktor di atas membuat banyak orang resah. Beberapa solusi yang ditawarkan oleh banyak pihak untuk kebaiakan para generasi muda, seolah-olah hanya menjadi ceremonial belaka. Sehinggga hasilnya pun belum begitu nampak.
Dari banyak masalah yang ditimbulkan oleh generasi muda yang tida produktif tersebut, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Pertanyaan ini seolah-olah mengingatkan kepada kita akan pentingnya menyadari kondisi yang sedang terjadi di lingkungan sekitar kita. Secara logika, barang siapa yang berbuat berarti beliaulah yang harus bertanggung jawab. Akan tetapi secara sistem, ketika salah satu sistemnya rusak, maka akan berdampak pada sistem yang lain. Dalam konteks berbangasa dan bernegara, tentu ada sistem yang mengatur semua yang tercakup di lingkungan tersebut. Bahasan ini bukan untuk menyalahkan, akan tetapi mengingatkan atau barangkali menjadi tugas kita bersama yang harus kita selesaikan secara seksama. Siapa yang mengaku bertanggung  jawab? Dari segi pemerintahan, bangsa ini berhak memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh generasi mudanya. Melalui bidang kepemudaan misalnya atau melalui program dari berbagai instansi yang melibatkan banyak generasi muda. Bukan hanya memikirkan bagaimana menambah prestasi yang sudah terdidik, akan tetapi penting juga memikirkan bagaimana memproduktifkan yang lain. Prestasi itu harus digapai untuk membuktikan bahwa kita layak diperhitungkan, akan tetapi apa gunanya prestasi dari segelintir orang akan tetapi lingkungan sekitarnya sebenarnya juga membutuhkan sentuhan-sentuhan semangat menjalani masa muda yang sungguh luar biasa ini. Program ril yang penulis usulkan ialah bagaimana adanya pengelolaan desa produktif berbasis kepemudaan untuk meningkatkan kepedulian masayarakat terpencil untuk kehidupannya yang lebih baik. Program ini khusus untuk pemuda yang bisa didanai oleh pihak pemerintahan dengan tujuan mengembangakan potensi generasi muda itu, sehingga ada yang tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu hal yang produktif.
Yang kedua, siapa yang mengaku bertanggung jawab atas rusaknya moral generasi muda hari ini ialah para orang tua. Karena peran yang begitu besar untuk mencetak generasi muda yang kompeten akan lebih terasa jika dimulai dari rumah. Karena sesungguhnya lingkungan yang dikenali oleh banyak orang ketika dalam proses pendewasaan ialah rumah. Sehingga rumah menjadi sesuatu yang penting untuk dijadikan laboratorium untuk menciptakan sesuatu yang kita inginkan. Jika selama ini orang tua banyak yang hanya disibukkan dengan bagaimana mencari nafkah untuk menghidupi diri dan anak-anaknya, maka harapannya itu bisa dimodifikasi menjadi dapur untuk “menggodok” generasi penerusnya. Agar nafkah yang dicari tidak “sia-sia”. Maksudnya ialah agar seimbang antara yang dicari dengan yang dihasilkan dari hasil pencarian itu. Sungguh sayang jika nafkah yang diberikan kepada anak-anaknya hanya untuk hura-hura, padahal banyak hal bisa dilakukan dengan harta yang ada itu. Kondisinya sekarang, keluarga hanya dijadikan tempat singgah, bukan tempat menempa diri dan anak-anaknya. Tidak banyak orang yang berhasil dalam “berkeluarga”, dilihat dari perspektif anak yang dihasilkan dari didikannya. Padahal Rasulullah mengatakan dalam haditsnya bahwa “jadikan rumahmu sebagai surgamu”. Bukan hanya dengan harta banyak dan rumah megah sebuah rumah bisa menjadi surga bagi pemiliknya, akan tetapi suasana yang ada si dalamnya yang menjamin surge dalam rumah itu.
Yang ketiga, dalam perspektif agama, kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebenaran ialah kewajiban setiap muslim. Jadi, ketika yang menjadi masalah ialah rusaknya moral, sebagai orang muslim yang sadar kita juga ikut bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi dalam tubuh umat ini.  Menjadi pribadi yang baik saja tidak cukup, akan tetapi ada kewajiban terhadap saudara yang lain, yaitu saling mengingatkan. Generasi muda juga bagian terpenting dalam sebuah agama termasuk Islam. Dalam beberapa periode peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah pada masa ke-Nabian beliau dahulu, pemuda menjadi tulang punggung dalam peperangan. Bahkan ada yang masih sangat muda yang jika dibandingkan dengan generasi seumuran beliau saat ini, jauh berbeda kualitasnya. Akar dari kenapa pemuda beragama, khususnya pemuda Islam, jauh dari yang diajarkan oleh agamnya ialah karena mereka belum masuk ke dalam agama itu sendiri secara menyeluruh. Sehingga pengaruh yang datang dari dari luar dapat merasuki jiwa mereka karena sesungguhnya mereka menyisakan ruang kosong yang belum terisi oleh nilai-nilai ke-Islaman. Bukan agamanya yang tidak mengajarkan etika dan moral kepada penganutnya, akan tetapi penganut itu sendiri yang tidak mau mengambil semua nilai yang diajarkan oleh agamanya. Islam tidak pernah mengahalalkan berjudi, akan tetapi banyak generasi muda Islam yang mengadu nasibnya di meja judi. Islam tidak pernah menghalalkan zina, akan tetapi banyak pemuda Islam yang mencari sensasi dengan berzina. Penulis mengajak kita semua khususnya umat Muslim untuk bersama-sama memperbaiki negara dan bangsa kita melalui pendekatan kepada agama yang notabenenya merupakan agama terbesar di Indonesia bahkan di dunia.
Sungguh merupakan impian semua orang jika generasi muda sadar akan perannya sebagai pembangun bangsa. Mereka semua berkontribusi positif, tidak ada lagi yang bersantai-santai atau bahkan berbuat kerusakan. Setiap anggota masyarakat merasakan keberadaan pemuda di lingkungan sekitarnya sebagai pemuda yang bisa diharapkan untuk membangun daerahnya. Pemuda yang memiliki prinsip yang kokoh tanpa ada yang mampu menggodanya dengan godaan kesenangan sementara yang dapat merusak masa depan diri, agama, dan bangsanya. Sebuah kondisi ideal yang ingin dicapai dari munculnya ide dan gagasan yang penulis paparkan di atas. Harapan itu masih terbentang luas di hadapan kita. Harapan untuk para pemuda agar menjadikan masa-masa mudanya menjadi masa muda yang penuh karya sehingga dikenang oleh banyak orang karena karya-karya besarnya. Hari esok yang masih misteri harus diantisipasi dengan mempersiapkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat. Agar menjadi pribadi yang dapat menguasai setiap keadaan sehingga mampu dan layak untuk mengemban amanah yang lebih besar di masa mendatang. Generasi produktif harus dibentuk dari sekarang jika kita tidak ingin agama dan bangsa ini hancur di masa mendatang. Mereka memiliki kebebasan yang tak terkira. Mereka juga memiliki potensi besar jika terkelola dengan baik. Gelar generasi muda produktif adalah hak setiap pemuda Indonesia.

Biodata
Judul: Siapa yang mengaku bertanggung jawab atas rusaknya moral generasi  muda bangsa ini
Nama Penulis: Parwanto
Tempat & Tanggal Lahir: Koto Agung, 13 Februari 1989
Nama Perguruan Tinggi: Universitas Andalas
Nama Fakultas dan Jurusan: Teknologi Pertanian, Teknik Pertanian
Domisili: Asrama Beastudi Etos, Jalan Bandes, Kelurahan Binuang Kampung Dalam, Kecamatan Pauh, Kota Padang
Alamat E-mail: akhpar_rangsit@yahoo.co.id
Telepon: -
Ponsel: 085263967234

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar