• HUTAN RI

    Ilegal Hutan Indonesia

    Warning!
  • bom Terumbu Karang RI

    BOM Terumbu Karang Indonesia

    Warning!
  • Tambang ilegal RI

    Tambang Ilegal Indonesia

    Warning!
  • Senjata API ilegal RI

    Senjata API ilegal di Indonesia

    Warning!

Jumat, 18 April 2014

siapa yang salah, PELAKU atau POLISI dari kejadian ini ? ibaratnya siapa yang dipenggal kepalanya. , seenaknya saja damai.


Siswi MTs Diculik dan Dirudapaksa 10 Pemuda Hingga Masuk RSJ
SARILAMAK - Seorang anak di bawah umur berinisial NPD, diculik selama empat hari dan diperkosa oleh sepuluh orang pemuda di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Ironisnya, karena perbuatan dursila kesepuluh pemuda tersebut, NPD yang masih duduk di bangku kelas tiga madrasah tsanawiyah itu, mengalami gangguan kejiwaan hingga masuk ke rumah sakit jiwa (RSJ).
Nora Fitri, anggota Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbar, menuturkan sesuai pengakuan NPD, peristiwa memilukan tersebut berawal pada Selasa (18/3/2014) sore.
"Selasa sore itu, NPD hendak pergi mengikuti pelajaran tambahan menjelang Ujian Nasional 2014. Dalam perjalanan, ia didekati seorang pria berkendaraan sepeda motor yang menawari mengantarkan," kata Nora kepada Tribunnews.com, Jumat (18/4/2014).
Korban, kata dia, berkali-kali menolak ajakan pria yang tak dikenalnya itu. Tapi, si pria tersebut akhirnya memaksanya untuk naik ke sepeda motor.
Gadis tersebut, lantas dibawa ke sebuah rumah indekos. Sesampainya di lokasi, Melati sempat berupaya menelepon ibunya.
Tapi, ia hanya mampu menjerit tanpa berkata apa pun kepada ibunya, karena ponselnya keburu dirampas pelaku.
Selanjutnya, ia diperkosa oleh si pria dan kesembilan rekannya yang ada di rumah indekos tersebut.
"Karena mendengar anaknya menjerit, si ibu melapor ke Polsek Guguak. Tapi polisi tidak bisa berbuat apa-apa, karena si anak belum hilang lebih dari 24 jam," terangnya.
Setelah peristiwa tersebut, pelaku ternyata tak juga melepas NPD. "Di indekos itulah, NPD dipaksa melayani sepuluh pria tersebut selama empat hari," imbuhnya.
Penderitaan NPD, berakhir pada Sabtu (22/3). Ia ditemukan polisi di lokasi penyekapan.
"Tapi, karena mengalami siksaan, ia jatuh sakit dan mengalami gangguan kejiwaan hinga masuk RSJ," tutur Nora.
Namun, sambungnya, NPD akhirnya keluar dari RSJ pada Kamis (17/4) kemarin, karena bersikukuh mau bersekolah demi lulus UN 2014.
"Sebenarnya, dia belum sembuh. Masih trauma berat, jiwanya belum sembuh, dia juga kerap pingsan. Tapi, dia berkukuh mau bersekolah. Kami sendiri, berupaya agar pihak sekolah mengizinkannya nanti mengikuti UN di rumah," terangnya.
Ironisnya lagi, kata Nora, aparat Polsek Guguak kekinian baru menangkap satu pelaku yang dianggap sebagai inisiator utama penculikan dan pemerkosaan tersebut.
"Sepekan setelah ditemukan, polisi justru membersihkan TKP dan membakar beberapa barang, dan menawarkan kepada keluarga korban untuk berdamai. Polisi berlasan, pelaku mau bertanggungjawab," tandasnya.(tribun/18/4/14)
Reade more >>

Senin, 17 Maret 2014

Iklan pinter apa bodoh? milik bloomberg Ind

Ini saya foto dari Bloomberg TV, Indonesia

Apa hubungannya penguatan bursa dengan pencalonan jokowi.
satunya lagi , peningkatan rupiah terhadap dolar dihubungkan dengan pencalonan jokowi, namun gambarnya tidak saya ambil.
Ini sponsor terbodoh seumur hidup_.. yang pernah saya lihat. kok bloomberg jadi gini ya ? *kecewa kok jadi seperti ..  s*m*ah.

17 April 2014.
by:penulis.
Reade more >>

Senin, 03 Februari 2014

FOTO-FOTO PKL di Universitas Jember


BERIKUT FOTO-FOTO PEDAGANG KAKI LIMA DISEKITAR UNIVERSITAS JEMBER

Semakin lama terasa semakin dibiarkan. Entah ada oknum dibaliknya atau tidak, kita tidak tahu. PKL sudah dirasa menjadi semakin kumuh, kumuh dan kumuh. Ibaranya semakin lama, menjadi seperti SAMPAH. APA ada yang korupsi, kita juga tidak tahu. Trotoar yang seharusnya digunakan pejalan kaki, sudah hilang. Parkir liar juga banyak.

Jember kota kecil, dibandingkan kota-kota besar lainnya, tetapi Pihak terkait seperti DPRD, Pemda, UNEJ,  satpol, dll semua tutup mata. Mereka menertipkan 1 kota kecil saja tidak bejus.

Kita lihat siapa yang akan bertanggung jawab dan berwenang tetapi tidak menindak. 















penulis.
Reade more >>

UNEJ SANGAT KUMUH : Pedagang Kaki Lima, Mahasiswa, dan Pemerintah Kabupaten Jember

Sudah lebih dari 3 tahun saya hidup di kota tetangga tanah kelahiran saya ini. Kota jember yang mempunyai segudang media edukasi dan satu-satunya kabupaten di karisedenan besuki ini yang memiliki civitas akademika dengan merk negeri. Banyak ilmu banyak hal yang saya dapatkan lebih dari 3 tahun lamanya saya hidup di kota yang masih begitu muda bila dibandingkan dengan megahnya ibu kota negara ini, ya….Jakarta. Namun, meskipun sudah bisa dibilang begitu lama saya mendiami kota ini (Jember), entah kenapa saya baru kefikiran untuk menuliskan sesuatu yang berlebih tentang kota Jember ini. Imajinasi itupun datang bukan dari pemikiran murni saya, imajinasi itupun datang dari ikut campur pikiran teman nongkrong saya di warung kopi. Entah darimana saya dan teman saya ini memulai, secara tiba-tiba ia membisikkan kalimat ini “kalau kau pandai menulis, menulislah hal lebih yang setidaknya bisa membawa perubahan akan kota keduamu ini sobat”. Lalu berlanjut kita bercanda bersama dan ia kemudia membisikkan kembali sebuah kalimat kepada saya “kalau kau peduli dengan Jember, tulislah tentang pedagang jalan jawa yang setiap hari kamu singgahi untuk mengisi perutmu dan juga pemerintah di kota keduamu ini sobat”. Itulah dua kalimat yang meng-amini saya untuk menulis tentang PKL jalan jawa, mahasiswa, dan pemerintah daerah kabupaten jember ini.
Jalan jawa, jalanan yang bukanlah letaknya berada di tengah pusat kota Jember ini. Namun, letak jalan jawa ini tepat berhimpitan dengan letak kampus tempat saya setiap harinya mencari ilmu (bukan selalu kuliah saja mencari ilmu itu). Ya, jalan jawa letaknya memang berhimpitan dengan Universitas Jember tempat dimana saya mendapatkan banyak hal tentang segala hal. Jalan jawa tidak pernah sepi, hanya sepi ketika hari raya Idul Fitri saja karena mahasiswa hampir 90 persen pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Saya tidak mengerti sisi historis jalan ini mengapa diberikan nama jalan jawa. Namun otak saya berfikir, mungkin pemerintah daerah kabupaten jember memberikan nama jalan jawa karena pulau jawa sendiri memang begitu ramai penduduknya, sama seperti jalan jawa yang ada di jember ini. Sebagai jalan yang tepat berada di himpitan kampus, tentu jalan jawa menjadi tempat yang begitu strategis untuk mencari rupiah. Jalan jawa memang tidak pernah sepi. Selalu ramai, ramai tidak hanya mereka yang lalu lalang di jalan jawa, namun juga ramai pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima tentu tau, dimana konsumen itu berada dan dimana pusat dari konsumen itu. Ya, tentu saja jalan jawa menjadi pusatnya mahasiswa karena jalan jawa merupakan salah satu jalan yang begitu dekat dengan kampus universitas jember yang tidak lain tidak bukan adalah tempat dimana para akademisi ini mencari secuil ilmu didalamnya (katanya begitu).
Pedagang kaki lima yang mencari rupiah di jalan jawa ini tentu begitu banyak. Bahkan meskipun saya sudah 3 tahun lebih berada di kota ini, saya sampai tidak bisa menghitung ada berapa pedagang kaki lima yang mencari rupiah di jalan jawa. Ketika sang fajar baru saja menampakkan sinarnya hingga subuh menjelang sekalipun jalan jawa masih terdapat pedagang kaki lima yang mencari rupiah. Sungguh surganya para pedagang kaki lima memang jalan jawa ini. Namun sayang, sekalipun surga, tetaplah surga yang ada di dunia dan tidak akan bisa se-sempurna surga yang ada di akhirat. Ya, memang dengan peran atau predikat jalan jawa sebagai pusatnya mahasiswa, namun jalan jawa justru mempunyai sisi negatif tersendiri ketika begitu “banjirnya” pedangan kaki lima yang berjualan di jalan ini. Dengan sisi lebar jalan yang hanya sekitar 15 meter saja, pedagang kaki lima ini memakirkan gerobaknya di pinggiran jalan jawa ini. Dan gerobak yang di parkir dengan manis itu tidak hanya 10 gerobak, namun bisa mencapai ratusan. Sulit menghitungnya karena memang begitu padat dan ramai pula. Belum lagi hal ini ditambah begitu ramainya orang yang lalu lalang di jalan jawa ini. Sudah pedagang kaki lima yang membuat ukuran jalan jawa yang tadinya lebarnya sekitar kurang lebihnya 15 meter menjadi 10 meter saja, masih di tambah lagi dengan ramainya orang yang lalu lalang di jalan jawa ini. Penuh sesak sekali jalan jawa ini. Kalau hari-hari biasa senin sampai kamis mungkin keramaian itu masih belum mencapai puncaknya. Namun coba kita bisa lihat ketika memasuki weekend. Hari dimana semua ingin merefresh otak mereka. Semua pun berhamburan ke jalan, dan tak lain ya jalan jawa juga walau hanya sekedar melewatinya saja. Jalan jawa yang tadinya surganya dunia seakan berubah menjadi neraka kemacetan. Ya memang kemacetan yang terjadi tidak separah yang terjadi di ibu kota negara ini (jangan sebut merk kotanya). Tapi, bagaimana pun juga, namanya sebuah kemacetan itu sangatlah tidak enak bila kita terlibat didalamnya. Bukankah begitu? Dan akan menjadi macet hingga kapan? Apakah pemerintah daerah akan tinggal diam saja sembari melihat semut-semut raksasa menikmati kemacetan jalan jawa ini?
Memang, hal ini seperti tidak ada masalah sama sekali. Tapi bila kita coba sedikit lebih peka terhadap jalan jawa. Bukankah hal ini justru menjadi hal yang sangat buruk? Bukankah pemerintah juga masih mempunyai kewajiban setidaknya memberikan solusi terbaik dari permasalahan ini? Ya, jelas pemerintah yang harus bertindak. Bukan, bukan bermaksud menyalahkan pemerintah (lagi). Namun, dilihat dari masalah yang terjadi, kalau bukan pemerintah yang bertindak, lalu siapa? Ini masalah yang gampang namun juga susah. Bagaimana tidak gampang? Kan tinggal menggusur saja para pedagang kaki lima tadi, dan selesai (berkaca di ibu kota negara). Namun juga susah, karena apabila asal main gusur menggusur saja dan tidak memberikan solusi bagi pedagang kaki lima ini, bukankah nantinya para penggusur ini akan mendapatkan merk dari ibu kota negara ini. Begitu bukan?
Ada tiga pihak yang terlibat didalam masalah ini. Mahasiswa sebagai konsumen, pedagang kaki lima sebagai produsen, dan pemerintah sebagai hakimnya. Kesimpulannya mungkin seperti ini. Apabila pemerintah dapat memberikan tempat pengganti bagi produsen tanpa menyingkirkan konsumen, mungkin kemacetan dan masalah-masalah yang lain akan dapat terselesaikan meskipun tidak pernah selesai sepenuhnya.
Sekian dari saya. Hanya coretan pena ini yang bisa saya berikan kepada kota keduaku ini. Saya berharap ada keajaiban yang nantinya membawa perubahan walaupun itu kecil.
Adhitya Tri A.
17 November 2013

SUMBER :
http://muda.kompasiana.com/2013/11/18/pedagang-kaki-lima-mahasiswa-dan-pemerintah-kabupaten-jember-611925.html

Reade more >>

UNEJ SANGAT KUMUH : Sekitar Kampus universitas jember


Setelah Anda Keliling Lingkungan Universitas Jember tidak ada salahnya anda berkeliling sekitar Lingkungan Universitas Jember, Acara tur bersama Blog "Infinity Knowledge" akan kita mulai dari Jembatan Jalan Jawa.


 Tur Keliling Lingkung Sekitas Kampus Universitas Jember akan kita mulai dari Jembatan ini,
Jembatan terletak di jalan Jawa, dan daerah sini sering disebut sebagai daerah Kampus oleh warga jember.


 Setelah berjalan beberapa lama kita mulai masuk pada luar area Universitas Jember,
disebelah kanan jalan tampak ada tembok berwarna putih,
Tembok tersebut adalah tembok pembatan Universitas Jember.


 Beberapa meter lagi kita dari luar kita bisa melihat bangunan Fakultas Ekonomi UNEJ,
dipingir jalan juga terutama daerah jalan jawa ini banyak pedagang kaki lima,
mereka menjual berbagai makanan dengan harga yang bersahabat dengan mahasiswa.


Setelah beberapa meter lagi sebelah kanan kita bisa melihat pintu masuk Universitas Jember,
Namun pada saat pengambilan gambar hari sabtu, jadi pintunya ditutup,
Pintu sebelah sini ditutup pada libur kuliah yaitu hari Sabtu dan Minggu.


 Setelah beberapa meter dari pintu masuk tadi,
Di kanan dan kiri jalan kita bisa melihat toko-toko di pingir jalan,
Disini kita bisa menemukan berbagai kebutuhan yang kita butuhkan.


 Pertokoan di jalan jawa sangatlah banyak, hingga akhir jalan Jawa ini.


 Setelah beberapa meter, disebelah kanan jalan kita bisa melihat Kampus Resto,
Disini biasanya tempat mahasiswa nongkrong sambil internetan.


 Didepan adalah bundaran DPR, disinilah akhir dari jalan Jawa,
Jika kita ke kiri maka kita ke Jalan Sumatra, Jika lurus kita menuju jembatan Semanggi,
Rute kita selanjutnya ke jalan Kalimantan, belok ke kiri setelah bundaran DPR.


 Dari sini kita juga bisa melihat Gedung DPR,
Didekat DPR juga banyak yang menjual berbagai caminalan dan makanan,
Camilan disini yang terkenal adalah cilok Eddy yang biasa mangkal di depan Gedung DPR.


Setelah belok kanan tadi, sekarang kita sudah berada di jalan Kalimantan

SUMBER : 


Reade more >>

UNEJ SANGAT KUMUH : KOTA JEMBER 2011 pedagang kaki lima dan pertokoan disekitar bundaran kampus /DPRD

Reade more >>

UNEJ SANGAT KUMUH : Antara Keberlangsungan Hidup dengan kepastian Hukum (Nasib para Pedagang Kaki Lima)


Dewasa ini, keadaan ekonomi yang begitu Fluktuatif cukup meresahkan warga dunia. Termasuk masyarakat Indonesia yang lebih banyak menggantungkan hidupnya dalam bidang Agraris dan perdagangan. Krisis Global yang sudah menghempas di berbagai belahan dunia cukup mempengaruhi Perekonomian Indonesia sehingga harga barang – barang cenderung naik dan tidak sesuai dengan pendapatan rakyat.
Disamping bidang Agraris, masyarakat Indonesia banyak yang menggeluti dunia perdagangan sehingga banyak ditemukan Pasar Tradisional di berbagai daerah. Dari Pedagang besar hingga pedagang kecil.
Di sini, Kami lebih tertarik mengkaji masalah Pedagang kecil khususnya Pedagang Kaki Lima (PKL). Tepatnya PKL yang ada di sekitar Kampus Universitas Jember  (Jalan Kalimantan, Jawa,Sumatera,Mastrip dan sekitarnya). Dikarenakan hal ini berkenaan langsung dengan kehidupan mahasiswa Universitas Jember yang mayoritas memiliki tingkat kehidupan menengah ke bawah serta warga yang tinggal di sekitar Kampus yang dapat memanfaatkan keadaan ini demi peningkatan hidupnya.
Disamping itu juga PKL sekitar kampus seharusnya diberikan perhatian  melalui pendekatan ilmiah atau sering disebut dengan penyuluhan. Dimana dapat kita lihat dari segi kedudukan atau keberadaan PKL tidak pernah mendapat perlindungan atau perhatian dari pihak pemerintah. Yang mana PKL yang ada disekitar kampus/ Universitas Jember selalu terjadi bentrok antara satpol PP yang bertujuan untuk mengusur PKL tanpa ada solusi atau jalan keluar yang pasti atau dengan kata lain tanpa menyediakan tempat yang pasti pada PKL yang dikarenakan upaya hukum terhadap PKL tidak jelas atau bahkan tidak ada.
Dari penjelasan diatas, yang dimakud dengan PKL adalah pedagang kaki lima dengan kata lain PKL berasal dari masyarakat yang tingkat ekonominya bisa dibilang rendah. Sebenarnya pedagang kaki lima tidak ingin bekerja yang berisiko, maksudnya berisiko adalah bila ada penggusuran tempat yang dia gunakan untuk berjualan akan dirobohkan, diusir dengan paksa. Semua yang dilakukan pedagang kaki lima hanya untuk mencari nafkah. Memang manusia diciptakan untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari. Bekerja sebagai pedangang kaki lima sangatlah wajar dan semua itu dihalalkan.
Menjadi PKL tentunya bukan keinginan atau cita-cita siapapun. Masalah timbulnya atau kehadiran banyaknya PKL tentu tidak berdiri sendiri. Sulitnya mencari kerja, dan tingginya tuntutan hidup di negeri ini adalah salah satu pemicu, bagaimana masyarakat dituntut mencari berbagai peluang untuk sekedar bertahan hidup, diantaranya menjadi PKL. Sejak terjadinya krisis moneter tahun 1998, serta beberapa kali krisis keuangan global yang menimpa hingga belum stabilnya kehidupan ekonomi di negeri ini. Ratusan ribu karyawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sementara ribuan tenaga kerja baru bertambah setiap tahunnya. Beberapa kali kenaikan harga BBM, membuat biaya transportasi dan harga bahan pokok terus merangkak naik. Juga biaya pendidikan,  tempat tinggal (rumah), TDL  listrik, dan lain-lain.
Disisi lain, PKL yang ada disekitar kampus Universitas Jember sangatlah membantu mahasiswa dalam mendapatkan/memperoleh makanan dengan harga yang sangat terjangkau/sangat murah, serta kebiasaan kehidupan mahasiswa yang senang berkumpul antar teman-teman dalam bentuk lesehan tanpa harus bingung menyediakan/memikirkan tempat yang cocok. Sehingga para PKL dengan cara begitu dapat memenuhi kehidupannya, tanpa harus melakukan tindakan yang tidak terpuji. Disamping itu kehadiran PKL juga dapat mengganggu ketertiban pengguna jalan kaki lima, tata kota jadi tidak indah, kebersihan lingkungan tidak terjamin yang mana kadang kala para PKL tidak memperhatikan kebersihan dengan kata lain membuang sampah dengan sembarangan.
Kita sebagai Mahasiswa patut mencontoh karakter yang melekat pada diri PKL, diantaranya : Mereka adalah pekerja keras, pantang menyerah, pantang malu, pandai mencari peluang, dan kuat menghadapi kesulitan hidup seberat apapun. Hal-hal positif inilah yang harus kita apresiasi. Sedangkan berbagai segi negatif dari diri PKL seperti : Bikin semrawut, sulit diatur, tidak tertib lingkungan, dan lain-lain, adalah satu kenyataan yang harus diperbaiki, baik oleh diri para PKL sendiri maupun oleh para pengelola lingkungan atau pemerintahan.
Bagaimana Pedagang Kaki Lima (PKL) diperlakukan di suatu kota menjadi cermin kemampuan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah kemiskinan dan menjalankan tata pemerintahan yang baik. Selama ini, banyak kota-kota telah gagal menghasilkan solusi bagi ‘masalah’ PKL. Isu PKL kerap menjadi polemik dan tidak jarang menjadi sumber konflik laten dan mengundang adanya tindakan anarkis. Jika pemerintah daerah bersikap keras terhadap PKL, mereka akan dituduh sebagai represif dan tidak pro-rakyat miskin, sementara jika PKL dibiarkan merajalela tak terkendali, pemerintah daerah dicap sebagai lemah dan tidak tegas. Sehingga muncullah suatu pertanyaan besar, mengapa banyak pemerintah daerah selama ini gagal menghasilkan solusi bagi masalah PKL? Bisakah kota-kota membuat kebijakan yang lebih ramah bagi PKL? Apa ciri kebijakan yang ramah PKL itu? Apakah Kita akan selalu membiarkan kondisi seperti ini ?
Semoga tulisan ini tidak hanya sebagai bacaan pengantar tidur belaka yang hanya indah di angan-angan. Melainkan menjadi salah satu acuan buat Kita bersama untuk lebih Peduli terhadap sesama.


SUMBER : 

Reade more >>